Testimoni Alumni

Jajang Rahmat Hidayat
Nama :
Jajang Rahmat Hidayat
Asal sekolah :
D3 AKPER PEMDA Garut
Angkatan BIMA ke :
1 (pertama)
Tahun ajar :
2009 - 2010
Program :
Kaigofukushishi ( Care Worker )
Tempat bekerja :
Shoujuen Nursing Home for Eldery, Miyagi, Jepang

Bekerja di luar negeri adalah impian saya karena menurut saya bekerja di luar Indonesia selalu bisa jalan-jalan, saya juga dapat berbagai pengalaman dan belajar hal-hal baru. Yang pasti saya juga bisa mendapat gaji yang lumayan besar juga di luar sana. Mencari Negara maju tetapi aman tidak mudah, selain itu saingannya banyak sekali sehingga peluang saya untuk lolos juga kecil.
Kenapa saya memilih Jepang sebagai Negara pilihan saya untuk bekerja? Karena Jepang yang saya tahu merupakan Negara yang maju, anime dan komiknya juga menarik, apa lagi budaya dan cara kerja orang Jepang yang kreatif, disiplin membuat saya makin tertarik dengan Negara Jepang yang sudah pasti aman.
Saingan untuk dapat bekerja ke Jepang tidak sedikit dan tidak mudah juga. Tetapi Alhamdulillah setelah saya mendapat tawaran belajar di BIMA saya sudah tidak pikir-pikir lagi walaupun saat itu BIMA baru saja mengadakan pelatihan bahasa Jepang untuk perawat dan careworker baru pertama kali. Walaupun begitu tapi saya percaya dan yakin karena di BIMA selain organisasinya bagus, seluruh staff dan pengajarnya pun professional sehingga saya betah dan bersungguh-sungguh belajar bahasa Jepang di BIMA. Hasilnya pun Alhamdulillah saya lolos program pengiriman careworker BNP2TKI dan mendapat kesempatan untuk bekerja di Jepang.
Selain semakin tahu mengenai Jepang, saya juga bisa jalan-jalan dan mengetahui cantiknya bunga sakura dan dinginnya salju di sini. Susahnya tinggal di sini karena saya jauh dari keluarga yang kadang membuat saya homesick dan kepingin pulang. Tapi karena di Jepang banyak tempat yang indah dan seru, sedikit demi sedikit rasa kangen rumah bisa terobati dan menjadi kerasan di sini.
Alhamdulillah juga, tahun 2014 ini saya lulus Kokka Shiken (ujian Negara untuk Careworker di Jepang) yang menjadikan saya bukan lagi Kohosha (calon careworker) tetapi telah menjadi Kaigofukushishi (careworker bersertifikat) yang telah diakui oleh negara Jepang.
Bagi teman-teman yang berminat bekerja di Jepang, siapkan mental, pengetahuan serta bahasanya juga. Belajar di BIMA menurut saya mungkin merupakan salah satu solusinya karena yang saya tahu hampir 80% lebih yang belajar di BIMA lolos program BNP2TKI, tapi dengan catatan bahwa kalian harus rajin belajar dan bekerja keras agar bisa menjadi yang termasuk ke dalam 80% orang tersebut. Salam sukses buat semua.

Rejaa & Ariyani
Nama :
Ariyani & Muhammad Rejaa Fauzi
Asal sekolah :
D3 AKPER PEMDA Cianjur
Angkatan BIMA ke :
1 (pertama)
Tahun ajar :
2009 – 2010
Program :
Kaigofukushishi ( Care Worker )
Tempat bekerja :
(Ariyani) Special Nursing Home Houraisou, Tokushima, Jepang
(Rejaa) Health Care Facility for the Eldery Silver-Care Mahoroba, Nara, Jepang

Kami berdua awalnya berkuliah di kampus yang sama namun berbeda kelas. Sampai akhirnya kami bertemu di suatu organisasi kemahasiswaan dan mulai akrab hingga lulus kuliah. Sampai suatu hari kami ditawari untuk belajar bahasa Jepang di Jakarta dibawah naungan Yayasan BIMA oleh salah seorang dosen kami di kampus. Karena tertarik untuk bekerja di Jepang, akhirnya kami memutuskan untuk ikut test masuk dan lolos seleksi kemudian mengikuti pendidikan di BIMA.

Kami senang sekali bisa menimba ilmu di BIMA. Selain belajar bahasa Jepang kami belajar banyak mengenai budaya dan kehidupan di Jepang langsung dari pengajar orang Jepang. Itu semua menjadi modal kami untuk bekerja di Jepang nantinya. Setelah lolos program EPA melalui BNP2TKI, kami lulus dari BIMA dan melanjutkan pendidikan di UPI Bandung hingga nanti menjelang keberangkatan kami ke Jepang. 2 minggu sebelum berangkat ke Jepang, kami berdua bertunangan tetapi belum sampai pada kesepakatan kapan akan dilakukan pernikahan mengingat pada saat itu kami belum berfikir jauh ke arah sana.
Pada awal 2013 kami berdua menikah di Indonesia. Sempat ada keraguan dari kami kalau pihak panti akan keberatan dan tidak mengizinkan rencana pernikahan kami karena sebelumnya ada kasus dari senior di daerah tempat Ariyani bekerja yang menikah namun akhirnya diberhentikan oleh panti tempatnya bekerja. Kami berkonsultasi dengan pihak panti tempat kami bekerja yang memakan waktu cukup lama, dan Alhamdulillah akhirnya kami dapat melaksanakan pernikahan kami di tanah air tercinta dan kembali lagi bekerja di Jepang.
Alhamdulillah tahun 2014 ini merupakan tahun terindah untuk kami karena kami berdua bisa lulus Kokka Shiken (ujian Negara) sebagai Kaigofukushishi yang resmi di Jepang. Tentunya keberhasilan ini disamping kerja keras kami dalam belajar, juga dukungan dan support dari semuanya terutama Yayasan BIMA yang telah mendidik kami bahasa Jepang mulai dari tingkat paling dasar yang dimana menjadi modal keterampilan berbahasa Jepang kami yang sangat penting bagi kami di sini. Terima kasih untuk para guru dan staff Yayasan BIMA, panti jompo tempat kami bekerja, sahabat dan keluarga kami yang selalu mendukung.
Tiga tahun bekerja di panti, kami belajar dan bekerja dengan penuh semangat dan insyaallah untuk 1 – 2 tahun ke depan kami berencana akan melanjutkan bekerja di Jepang dengan status yang berbeda dengan menyandang sertifikat Kaigofukushishi.
Teman-teman, berjuang dan bersemangatlah menimba ilmu di Yayasan BIMA. Jalan kalian masih panjang, masih banyak waktu untuk belajar. Kalian pasti bisa! Dimana ada niat, disitu pasti ada jalan. Kami menunggu kalian di Jepang. Ganbatte kudasai!


MERA JULIYASA
Nama :
Mera Juliyasa
Asal sekolah :
D3 STIKes Mitra Adiguna Palembang
Angkatan BIMA ke :
2 (kedua)
Tahun ajar :
2010 - 2011
Program :
Kaigofukushishi ( Care Worker )
Tempat bekerja :
Katorean Home Health Service Institute, Chiba, Jepang

Lulus dengan memiliki sertifikat perawat dan bekerja di luar negeri memang sudah menjadi impian saya sejak di bangku kuliah. Menurut saya, bekerja di luar negeri menjadikan kita dapat memperoleh banyak pengalaman baik di bidang pekerjaan, pendidikan, cara berpikir, maupun bersosialisasi dengan orang-orang luar negeri. Bahkan kita bisa mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru, dan tentu saja kita bisa mendapatkan pendapatan finansial yang lebih daripada di Indonesia.
Untuk bisa bekerja di luar negeri, khususnya Jepang, tidaklah mudah karena Jepang merupakan salah satu negara maju dengan teknologi tinggi namun tidak meninggalkan sisi kebudayaannya. Untuk itu diperlukan persiapan yang cukup untuk bisa bekerja di Jepang.
Pertama, tentu saja butuh pemahaman bahasa Jepang. Kedua, pemahaman tentang kebudayaan Jepang, baik itu dari bidang pekerjaan seperti kedisiplinan, moral, dan kebiasaan hidup sehari-hari di Jepang. Ketiga, persiapan kesehatan fisik dan mental diri.
Supaya dapat memenuhi syarat tersebut, diperlukan tempat untuk mengikuti pelatihan persiapan bekerja di Jepang. Yayasan BIMA merupakan tempat yang sangat tepat untuk persiapan tersebut.
Di Yayasan BIMA, bukan hanya mempelajari bahasa Jepang, tetapi kita akan diajarkan tentang banyak hal, seperti budaya, moral dan kebiasaan masyarakat Jepang. Dan yang paling penting adalah persiapan untuk test seleksi BNP2TKI pemerintah Indonesia. Pelatihan di BIMA sangat membantu sekali karena peluang untuk lolos besar kemungkinannya arau bisa dikatakan mencapai diatas 80%. Tetapi tentu saja itu harus diiringi dengan usaha keras, niat dan tekad yang kuat dari diri kita sendiri ya.
Semoga cita-cita tinggi kita bisa tercapai kelak. Salam hangat dan suses untuk kalian semua.


Ni Luh Eka Budi Yulianti
Nama :
Ni Luh Eka Budi Yulianti
Asal sekolah :
D3 STIKes Bali
Angkatan BIMA ke :
2 (kedua)
Tahun ajar :
2010 - 2011
Program :
Kaigofukushishi ( Care Worker )
Tempat bekerja :
Special Nursing Home for elderly Choseikyorakuen, Chiba, Jepang

Konnichiwa. Selamat siang semua. Salam kenal, nama saya Eka dari Bali. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman saya hingga bisa sampai di Jepang dan bekerja di sana hingga sekarang.
Awalnya saya tidak pernah terpikir untuk bekerja di Jepang sama sekali. Tetapi, saat itu Yayasan BIMA datang ke kampus saya dan menawarkan program beasiswa belajar bahasa Jepang di Jakarta dan mengikuti program bekerja di Jepang sebagai seorang careworker di sana. Awalnya saya ragu, apakah program ini memang benar-benar pas dan tepat untuk saya. Setelah saya lolos program beasiswa dan mulai belajar di Yayasan BIMA, saya menjadi sangat yakin kalau program ini memang tepat dan cocok untuk kita yang ingin bekerja di Jepang.
Selama saya belajar di BIMA, saya sangat banyak mendapatkan teman baru yang berasal dari bermacam-macam daerah, sensei (pengajar) yang asyik, dan juga belajar banyak hal seperti tata cara hidup di Jepang, moral dan lain sebagainya. Dan alhasil, setelah saya di Jepang, banyak sekali hal-hal yang sangat bermanfaat yang dulu telah saya terima di BIMA teramat sangat berguna dan saya terapkan selama saya tinggal di Jepang hingga sekarang.
Selama saya bekerja di Jepang, banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan dan mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya, karena itulah saya berterima kasih kepada Yayasan BIMA karena sudah membantu membawa saya bisa sampai ke Jepang.
Tahun 2015 bulan Januari nanti, saya dan teman-teman angkatan saya akan mengikuti Kokka shiken (ujian Negara) untuk mengambil lisensi sebagai seorang kaigofukushishi (careworker bersertifikat). Semoga saya bisa lulus dan juga bisa membawa nama Yayasan BIMA dan Indonesia tercinta ini.
Untuk semua yang baru mau belajar ataupun bekerja di Jepang, tetap semangat dan ingat, “kesempatan hanya sekali”. Mari bersama-sama Ganbarimashou!


Budi Rian Munawar
Nama :
Budi Rian Munawar
Asal sekolah :
D3 STIKes Budi Luhur Cimahi
Angkatan :
3 (ketiga)
Tahun ajar :
2011 - 2012
Program :
Kangoshi ( Nurse )
Tempat bekerja :
Rumah Sakit Narimasu Kosei, Tokyo, Jepang

Awal mula saya masuk ke BIMA dikarenakan motivasi saya yang ingin bekerja di Jepang seperti sepupu saya yang sudah selama 20 tahun menetap di sana. Dari tempat bekerja saya di sebuah rumah sakit di Jakarta, saya meluncur ke Bandung untuk mengikuti tes seleksi dan tes wawancara agar dapat mengikuti pelatihan di Yayasan BIMA. Alhamdulillah saya lulus tes dan mengikuti pelatihan selama ± 2 bulan lebih dikarenakan berubahnya sistem penerimaan di BNP2TKI. Saat itu pula sebenarnya saya juga mendapatkan panggilan dari salah satu rumah sakit di Qatar, Saudi Arabia, tapi saya menolak dan lebih memilih mengikuti pelatihan di BIMA dan menggapai impian saya.
Stress selama pelatihan di BIMA pernah saya alami, tapi karena niat saya sudah bulat untuk ke Jepang maka saya coba mencari solusi terbaik. Tiap hari saya harus mempelajari tata bahasa, kanji, kosakata, pola kehidupan sehari-hari ala Jepang, mengenal budaya, moral orang Jepang, dan lain sebagainya. Berat pada awalnya tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan merasa mudah untuk beradaptasi dengan hal yang baru ini. Setelah dinyatakan lolos program BNP2TKI, saya lulus dari BIMA dan melanjutkan pelatihan di Jakarta dan Jepang selama 1 tahun sebelum mulai bekerja.
Bekerja di rumah sakit di daerah Tokyo, Jepang sangatlah sibuk karena saya dituntut agar dapat bekerja dan belajar. Bekerja sambil belajar merupakan hal yang berat. Saya hanya mendapatkan waktu belajar 2 hari dalam seminggu atau 8 jam dalam seminggu ditambah belajar mandiri. Selain itu saya juga mengikuti belajar berkelompok di Akihabara dengan beberapa orang guru tenaga bantuan bahkan dokter. Demi lulus ujian Negara dan ujian kemampuan berbahasa Jepang level N2, saya akan terus bersungguh-sungguh belajar.
Selama di Jepang, saya harus mengurus diri sendiri, seperti memasak dan bermacam kegiatan lainnya. Beruntung saya telah banyak belajar di BIMA karena pada awalnya saya yang tidak bisa memasak dan mengurus diri sendiri, akhirnya bisa mandiri hidup di Jepang. Selain itu bermacam-macam ilmu yang saya pelajari di BIMA terasa sangat berguna di sini dan saya merasa sangat bersyukur dapat belajar di BIMA.
Saya akan berusaha sekuat tenaga dan tidak akan menyerah karena dimana ada keinginan pasti disitu akan ada jalan yang terbuka lebar. Karena itu berusaha dan belajar sungguh-sungguh.


Lestari Nur hadiansyah
Nama :
Lestari Nur Hadiansyah
Asal sekolah :
D3 POLTEKES KEMENKES Bandung
Angkatan BIMA ke :
3 (ketiga)
Tahun ajar :
2011 - 2012
Program :
Kaigofukushishi ( Care Worker )
Tempat bekerja :
Special Nursing Home for Eldery Tsutsujien, Chiba, Jepang

Konnichiwa. Perkenalkan, saya adalah Lestari Nur Hadiansyah dan merupakan siswa Yayasan BIMA angkatan ketiga. Dalam kesempatan ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya di Jepang sebagai seorang Careworker.
Tepat 5 Mei 2014 kemarin, saya genap 2 tahun hidup di Jepang. Hingga saat ini, saya merasa sangat beruntung dan bahagia bisa bekerja di Negara ini. Begitu banyak pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan di Indonesia. Salah satunya adalah saya mendapatkan tempat bekerja yang menyenangkan dan juga Alhamdulillah memberikan saya kebebasan dalam beribadah dan juga memakai hijab. Bahkan di tempat saya bekerjapun mengenai masalah belajar juga sangat didukung.
Tidak bisa saya pungkiri bahwa tinggal di Negara orang tidaklah gampang. Terkadang rasa jenuh, lelah, kecapaian sangatlah manusiawi. Tetapi itu semu tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Salah satu yang membuat saya tidak terbiasa pada awalnya adalah memahami perbedaan budaya, lingkungan dan kebiasaan hidup mulai dari makanan dan lain sebagainya yang sangat berbedam sehingga saya cukup membutuhkan waktu lama untuk bisa beradaptasi. Selain itu di sini, saya harus bekerja sambil belajar untuk menghadapi ujian Negara, yaitu kokka shiken. Melakukan 2 hal ini secara bersamaan tidaklah mudah, ditambah lagi untuk pertama kalinya dalam hidup, saya harus berjauhan dari orang tua dan hidup sendiri di Negara orang. Segala sesuatunya saya lakukan sendiri, mulai dari memasak, belanja, mencuci dan lain-lain. Itu semua bukan hal yang biasa saya jalani. Bisa dikatakan hidup saya berubah 270 derajat hingga pada awalnya saya sempat home sick dikarenakan belum terbiasa terhadap gempa. Cemas dan rasa takut selalu saya rasakan pada awalnya, namun lambat laun saya semakin terbiasa dan mandiri, bahkan saya merasa tangguh dan penuh rasa bersyukur hingga sekarang. Semua itu berkat bimbingan dan didikan semasa saya di Yayasan BIMA.
Melalui Yayasan BIMA, saya belajar banyak hal. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memperkenalkan saya dengan yayasan ini. guru-buru di BIMA telah memberikan banyak ilmu kepada saya dan semua itu sangat bermanfaat bagi saya di sini. Jika tanpa menjalani pendidikan di BIMA, saya pasti tidak akan seperti sekarang. Selama 3 bulan belajar di BIMA, saya dididik dengan sangat disiplin, mulai dari bahasa, tata karma, sampai kebiasaan hidup orang Jepang. Selama pendidikan itu saya menjadi terbiasa dengan bermacam-macam hal seperti memasak, bersih-bersih, belanja kebutuhan bersama teman-teman seasrama, dan banyak macam lainnya. Karena tempaan selama di BIMA itulah saya jadi terbiasa dan mampu mengatasi masalah hingga mampu beradaptasi dengan lingkungan di Jepang. Terima kasih yayasan BIMA.
Untuk para rekan perawat yang ingin atau sedang menempuh pendidikan dan tengah menjalani kesempatan emas bersama Yayasan BIMA, kita akan banyak belajar untuk bisa survive di Jepang. Terus berjuang, jangna patah semangat. Yakin kita bisa melakukan yang terbaik agar dapat mengharumkan nama bangsa dan memajukan Negara Indonesia. Ganbarimashou!


Lisa Yusida_edit

Nama :
Lisa Yusida
Asal sekolah :
D3 STIKes Muhammadiyah Banjarmasin
Angkatan BIMA ke :
4 (keempat)
Tahun ajar :
2012 - 2013
Program :
Kaigofukushishi ( Care Worker )
Tempat bekerja :
Special Nursing Home for Eldery Kashiwa Kohitsujien, Chiba, Jepang

Keinginan saya untuk bekerja di Jepang pada awalnya sempat diragukan dan hampir ditentang oleh orangtua. Tetapi setelah menjelaskan mengenai berbagai informasi, seperti keamanan negara Jepang, prosedur pengiriman dan perlindungan tenaga kerja yang legal, dan kesungguhan niat dari diri saya sendiri, Alhamdulillah saya berhasil mengantongi restu dan berangkat dari Banjarmasin ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan di Yayasan BIMA. Ternyata selama saya dibimbing di Yayasan BIMA, saya mendapatkan banyak hal. Bukan hanya dalam pembekalan bahasa dan budaya Jepang, tetapi saya juga mendapatkan pembekalan mengenai pola kerja bahkan saya juga mendapat ilmu bagaimana nantinya memulai hidup mandiri saat di Jepang nantinya. Jujur, saya sempat mengeluh tentang betapa disiplinnya peraturan di Yayasan BIMA, tetapi kini saya merasakan manfaatnya,bahkan sekarang ini setelah bekerja dan hidup mandiri di Jepang.

Setelah dinyatakan lolos program IJEPA keenam tahun 2013, saya melanjutkan pelatihan program pemerintah lagi selama satu tahun sebelum mulai bekerja sebagai calon Careworker bersertifikat di Jepang sehingga makin memantapkan pembekalan saya. Meskipun masih merasa banyak kekurangan, terutama dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang, sambil beradaptasi dengan pekerjaan, perlahan saya juga meningkatkan kemampuan saya dalam berbahasa Jepang. Berkat dukungan dari berbagai pihak dan belajar dengan sungguh-sungguh, dalam waktu kurang lebih enam bulan setelah saya bekerja di Jepang, Alhamdulillah saya lulus ujian kemampuan bahasa Jepang (Nihon Go Noryoku Shiken) level N1. Saya juga bersyukur dengan lingkungan kerja yang begitu mensupport saya bukan hanya dalam pekerjaan dan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian Negara, tapi juga dalam beribadah sholat, puasa dan tentunya berhijab saat saya berkerja. Ditambah lagi saya juga mendapatkan akses yang cukup mudah untuk memperoleh makanan dan produk halal, serta bisa berkumpul dengan sesama orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Lumayan bisa mengurangi rasa kangen saya kepada keluarga nun jauh di Indonesia.

Bekerja sambil mengamati cara kerja dan komunikasi staff lain, belajar dari kegagalan dan kesalahan, serta dapat mencoba hal-hal baru membuat pekerjaan yang awalnya terasa melelahkan menjadi lebih menarik dan menantang. Karena itu, semangat selalu dalam meraih apa yang kamu inginkan ya. Semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar